Dari Masjid Agung, Semangat Hijau Ratu Dewa Menyebar : Palembang Kini Kota Menanam
Palembang, bidiksumsel.com – Di tengah panasnya sore Kota Palembang yang padat aktivitas, terdapat pemandangan yang tak biasa di pelataran Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II. Bukan deretan kendaraan atau jemaah yang memadati halaman masjid, melainkan barisan pohon buah yang ditanam langsung oleh orang nomor satu di kota ini.
Adalah Ratu Dewa, Wali Kota Palembang, yang dengan semangat khasnya memulai Gerakan Kota Palembang Menanam Buah. Gerakan ini bukan sekadar seremoni tanam pohon. Di balik itu, terdapat pesan besar : menjadikan Palembang lebih hijau, sehat, produktif, dan tangguh dalam menghadapi tantangan pangan masa depan.
Dari Masjid, Tumbuh Harapan
Dengan cangkul dan bibit buah di tangan, Ratu Dewa menanam rambutan, kelengkeng, dan berbagai tanaman buah lainnya. Ia memulai dari tempat yang sakral Masjid Agung bukan tanpa alasan. Di sinilah simpul spiritualitas masyarakat Palembang berkumpul, dan di sinilah pula gerakan hijau ini mengambil akar.
“Saya ingin Palembang ini hijau dengan tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya, sembari menepuk ringan tanah yang baru saja dipadatkannya.
Bagi Ratu Dewa, menanam bukan hanya soal menghasilkan buah, tetapi soal menanam harapan dan warisan. Gerakan ini merupakan simbol kolaborasi besar antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya indah, tetapi juga bergizi dan mandiri.
Kota Buah : Mimpi yang Dimulai dari Akar
Gerakan Kota Palembang Menanam Buah ini akan dilakukan secara masif dan sistematis. Wali Kota menyebut, tak hanya pejabat pemerintahan yang akan terlibat, tetapi juga para camat, lurah, RT, bahkan siswa sekolah.
“Ini akan kita adakan secara masif mulai dari tingkat OPD, camat, lurah dan RT,” ungkapnya.
Warga akan diajak menanam di halaman rumah, di fasum (fasilitas umum), hingga memanfaatkan lahan-lahan tidur yang selama ini terbengkalai. Bibit-bibit buah akan menjadi alat penyambung antara urbanisasi dan alam, antara generasi hari ini dan masa depan.
Yang menarik, gerakan ini bukan sekadar kampanye lingkungan semata. Ketahanan pangan menjadi roh dari inisiatif ini. Di tengah ketidakpastian iklim dan naik-turunnya harga bahan pokok, kota harus bisa membangun sistem pangan mandiri dan itu bisa dimulai dari halaman rumah.
“Gerakan ini bukan hanya soal menanam, tetapi tentang membangun budaya cinta lingkungan dan menyiapkan warisan sehat bagi generasi mendatang,” kata Ratu Dewa.
Menanam buah, selain memberikan manfaat ekonomi dan gizi, juga memperindah kota. Pohon-pohon buah berfungsi sebagai penyaring udara alami, pelindung dari panas, dan pemikat satwa seperti burung dan lebah. Ini adalah upaya ekologis yang menyentuh aspek sosial dan budaya sekaligus.
Palembang kini tengah menata diri sebagai kota layak huni dan berkelanjutan. Berbagai inisiatif hijau terus digalakkan : dari pengurangan sampah plastik, perbaikan drainase alami, hingga penambahan ruang terbuka hijau. Gerakan menanam buah ini melengkapi mozaik besar itu sebagai strategi urban farming yang berbasis komunitas.
Ajak Warga Jadi Pahlawan Pangan
“Gerakan ini bukan hanya program pemerintah, ini adalah gerakan masyarakat, tempat setiap warga bisa menjadi pahlawan pangan dan penjaga lingkungan,” tegas Wali Kota.
Sebagai langkah awal, Pemkot Palembang akan membagikan bibit buah kepada warga melalui kelurahan dan kecamatan. Nantinya, akan ada lomba kampung buah, penghargaan bagi lingkungan yang paling produktif, hingga kompetisi taman pangan keluarga.
Langkah kecil yang dilakukan di pelataran Masjid Agung hari ini mungkin hanya sederet lubang tanah dan beberapa batang pohon. Tapi dari situlah, tumbuh gerakan yang menjanjikan masa depan kota yang sehat, hijau, dan mandiri.
Karena sejatinya, seperti pepatah lama mengatakan: “Barang siapa menanam, dia akan menuai.” Dan Palembang hari ini sedang menanam bukan hanya buah, tapi harapan. (rd)












