Pemimpin yang Mendengar dan Bertindak: Blusukan Prima Salam di Sako dan Janji Menuntaskan Kemacetan
Palembang, bidiksumsel.com – Di tengah riuhnya dinamika perkotaan dan beban administrasi pemerintahan, sikap cepat tanggap Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, saat kunjungan kerja ke Kecamatan Sako, Senin (21/4/2025), patut diapresiasi. Ia bukan hanya hadir untuk formalitas—tapi mendengar, berdiskusi, dan langsung menindaklanjuti aspirasi.
Salah satu keluhan krusial yang disampaikan oleh camat dan lurah adalah kemacetan parah di sekitar Jalan MP Mangkunegara yang diakibatkan mobil barang berukuran besar. Masalah ini bukan hal baru, tetapi kerap berulang dan belum menemukan penyelesaian tuntas. Namun kali ini, solusi datang cepat: Prima Salam langsung menghubungi Kepala Dinas Perhubungan saat itu juga.
“Mudah-mudahan pak Agus segera rapat agar tidak ada lagi mobil mobil besar yang melintas di Kota Palembang. Selain mengurangi kemacetan, ini juga bisa mengurangi angka kecelakaan,” ujar Prima Salam.
Langkah itu terasa sederhana: satu panggilan telepon. Tapi sesungguhnya, itu menunjukkan nilai kepemimpinan yang responsif dan dekat dengan rakyat. Bukan sekadar janji, bukan menunda dengan birokrasi. Tindakan itu memberi pesan jelas bahwa aspirasi masyarakat yang disampaikan lurah dan camat didengar dan langsung ditanggapi.
Kemacetan di kawasan MP Mangkunegara sudah menjadi momok harian bagi warga. Mobil-mobil truk besar melintas di luar jam yang ditentukan, menyebabkan perlambatan lalu lintas, bahkan potensi kecelakaan. Padahal, Peraturan Wali Kota sudah jelas mengatur tentang waktu dan jalur mobil barang.
Masalahnya bukan ketiadaan aturan, melainkan lemahnya pengawasan. Maka ketika seorang pemimpin mengingatkan kembali soal regulasi yang ada dan mendorong aparat untuk bertindak, publik bisa berharap akan adanya perubahan nyata di lapangan.
Fungsi Pengawasan dan Evaluasi yang Ditegaskan
Selain soal kemacetan, kunjungan Prima Salam ke kantor camat juga dilakukan dalam rangka pengawasan dan evaluasi kinerja pemerintahan wilayah, termasuk sinkronisasi data titik rawan macet, banjir, hingga persoalan lainnya.
“Secara administrasi hasil tinjauan camat, lurah dan RT agar diseragamkan. Di mana titik macet, banjir dan lain-lain,” tegasnya.
Langkah ini merupakan bentuk keseriusan untuk mengintegrasikan kerja antarlevel pemerintahan, dari RT hingga Pemerintah Kota. Tak hanya mengandalkan laporan, tapi turun langsung, mendengar, dan memberi solusi.
Dalam arahannya, Wawako juga menyentuh pentingnya pelayanan publik yang ikhlas dan tulus, terutama oleh para aparatur yang kini telah memperoleh insentif dari APBD, termasuk ketua RT.
“Mudahkan urusan rakyat, Insyaallah urusan kita dimudahkan Allah,” ucapnya dengan penuh harap.
Kalimat itu bukan hanya retorika, tapi pengingat akan etika pelayanan publik: bahwa jabatan bukan semata profesi, tapi pengabdian. Dan pengabdian itu harus dirasakan masyarakat secara nyata melalui pelayanan yang cepat, ramah, dan tidak berbelit.
Dalam banyak kasus, pejabat daerah lebih suka membuat rapat daripada turun ke lapangan. Tapi kunjungan kerja Prima Salam ini menjadi contoh bahwa pemimpin yang baik adalah yang mendengar langsung, hadir secara fisik, dan mampu merespons secara konkret.
Palembang butuh lebih banyak pemimpin seperti ini—yang tidak hanya bicara di balik meja, tapi menyatu dengan denyut nadi masyarakat.
Kalau warga Sako kini bisa sedikit lega karena truk-truk besar akan segera ditertibkan, itu adalah hasil dari kepemimpinan yang tak berjarak. (rd)












