Sukabumi, bidiksumsel.com – Sebanyak 1.156 perwira Polri resmi dilantik sebagai lulusan Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan ke-54 Gelombang II Tahun Anggaran 2025 dalam upacara yang digelar di Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Jumat (7/11/2025).
Pelantikan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., dengan penuh penekanan terhadap makna pengabdian dan perubahan.
Dari total lulusan tersebut, 1.099 di antaranya adalah polisi laki-laki (polki) dan 57 polisi wanita (polwan) yang telah menempuh pendidikan selama empat bulan penuh. Mereka kini resmi menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) dan siap diterjunkan ke berbagai satuan tugas di seluruh Indonesia.
Dalam arahannya, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menyampaikan pesan tegas bahwa pelantikan ini bukan sekadar kenaikan pangkat, melainkan titik awal perubahan nyata bagi institusi Polri.
“Hari ini bukan hanya pelantikan pangkat, tetapi titik awal perubahan. Masyarakat menunggu aksi, bukan janji. Tunjukkan di lapangan bahwa kehadiran kalian membawa perbaikan nyata bagi wajah Polri,” ujar Dedi lantang di hadapan para perwira muda.
Ia menegaskan bahwa teori yang diperoleh selama pendidikan tak akan berarti jika tak diimplementasikan di lapangan. Para perwira, katanya, kini bukan lagi pelaksana, tetapi pengendali di garis depan yang bertanggung jawab memastikan setiap kebijakan pimpinan benar-benar diterjemahkan menjadi pelayanan publik yang dirasakan masyarakat.
“Sekarang kalian bukan lagi pelaksana, tetapi pengendali di lapangan. Bimbing anggota, jaga standar pelayanan, dan pastikan setiap kebijakan diterjemahkan menjadi tindakan. Jangan biarkan teori berhenti di ruang kelas,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Komjen Dedi juga menyoroti tantangan besar yang sedang dihadapi Polri, yakni memulihkan kepercayaan publik. Ia menyebut, berbagai dinamika dan kasus belakangan ini telah memengaruhi citra institusi di mata masyarakat.
Untuk itu, Polri mencanangkan program Quick Wins Akselerasi Transformasi dan menerbitkan buku Do’s and Don’ts sebagai panduan perilaku anggota.
Namun, Dedi menegaskan bahwa langkah tersebut tidak boleh berhenti pada tataran slogan. “Quick Wins bukan di atas kertas. Ukurannya sederhana: masyarakat merasa aman, dilayani dengan hormat, dan percaya bahwa polisi bekerja untuk mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan seorang perwira tidak diukur dari banyaknya laporan atau penghargaan, tetapi dari seberapa besar perubahan yang bisa dirasakan masyarakat di lingkungannya.
“Jadilah solusi, bukan sumber masalah,” pesan Dedi mengakhiri bagian arahannya.
Wakapolri juga menekankan pentingnya memperkuat pelayanan publik melalui optimalisasi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) dan fungsi PAMAPTA (Patroli dan Pengamanan Tempat).
Menurutnya, dua unit tersebut merupakan “garda depan citra Polri” karena berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Sebagian besar lulusan SIP Angkatan 54 akan ditempatkan di fungsi-fungsi ini sebagai bentuk pembuktian perubahan nyata.
“Mulai dari SPKT dan PAMAPTA, ubah cara kerja, ubah cara melayani. Datangi masyarakat lebih dulu, tanggapi cepat laporan, dan pastikan setiap warga merasakan kehadiran Polri yang manusiawi dan tanggap,” tandas Dedi.
Dalam arahannya, Wakapolri juga menegaskan tiga fokus utama Polri di lapangan : pemberantasan narkoba, penindakan penyelundupan, dan perang terhadap judi online.
“Tiga hal ini tidak bisa ditunda. Tindakan tegas dan akuntabel harus segera dilakukan di lapangan. Jangan tunggu perintah, inisiatif adalah bentuk pengabdian,” katanya.
Selain itu, Polri juga diperintahkan untuk siaga menghadapi bencana yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Tercatat, hanya dalam satu bulan terakhir, terjadi 228 kejadian bencana di berbagai daerah dengan nilai kerugian mencapai Rp129 miliar.
“Polri harus hadir bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga menjaga kemanusiaan,” tegas Dedi.
Di era digital dan media sosial, Wakapolri juga memberi perhatian khusus pada perilaku anggota di dunia maya.
“Reputasi Polri tidak hanya dibangun di kantor, tetapi juga di ruang digital. Gunakan media sosial untuk menebar kepercayaan, bukan kontroversi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa satu unggahan yang tidak bijak bisa merusak kepercayaan publik yang telah dibangun dengan kerja keras. Oleh karena itu, seluruh perwira baru diminta menjaga etika dan nama baik institusi, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.
Mengakhiri arahannya, Komjen Dedi Prasetyo kembali menegaskan bahwa pelantikan ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian baru.
“Masyarakat tidak membutuhkan polisi yang sempurna, tetapi polisi yang hadir, peduli, dan dapat diandalkan. Kepercayaan publik hanya bisa diraih dengan tindakan yang konsisten, sopan, dan sigap,” pungkasnya.
Dengan semangat tersebut, Polri berharap kehadiran 1.156 perwira muda ini akan menjadi motor penggerak perubahan nyata, memperkuat pelayanan publik yang humanis, cepat tanggap, dan berintegritas tinggi, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian. (dkd)













