Palembang, bidiksumsel.com – Kota Palembang kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kota olahraga unggulan di Indonesia. Setelah berkali-kali dipercaya menjadi tuan rumah berbagai ajang nasional hingga internasional, kali ini ibu kota Provinsi Sumatera Selatan tersebut kembali mencuri perhatian dengan menjadi lokasi penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Brotherhood of Toxophilites (BOT) ke-8, kompetisi panahan berkuda bergengsi yang diikuti ratusan atlet dari berbagai daerah.
Kejuaraan yang mengusung tema “Legasi Parameswara Ado Olah Ado Oleh” itu resmi dibuka pada Minggu (18/01/2025) di D’Sultan Stable, Palembang. Pembukaan dilakukan oleh Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Keuangan, Pendapatan, Hukum, dan HAM, Edison, S.Sos., M.Si, yang hadir mewakili Wali Kota Palembang. Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut Ketua Umum Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia (KPBI), Dr. Akhmad Mustain, S.STP., M.Si.
Dalam sambutannya, Edison menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaan atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada Kota Palembang sebagai tuan rumah kejuaraan nasional. Menurutnya, ajang ini bukan hanya menjadi arena unjuk kemampuan para atlet, tetapi juga momentum penting untuk mempererat persaudaraan dan silaturahmi antarpecinta olahraga panahan berkuda dari seluruh Indonesia.
“Alhamdulillah, Kota Palembang dipercaya untuk melaksanakan Kejuaraan Nasional Brotherhood of Toxophilites yang ke-8. Diharapkan para peserta dapat menguji bakat dan prestasi yang dimiliki. Namun yang tidak kalah penting, seluruh atlet tetap menjunjung tinggi sportivitas. Kalah dan menang adalah hal biasa dalam sebuah kompetisi. Lebih dari itu, ajang ini menjadi wadah silaturahmi, apalagi diikuti peserta dari 22 provinsi. Ini luar biasa,” ujar Edison.
Ia juga berharap penyelenggaraan kejurnas ini dapat memberikan dampak positif bagi citra Palembang sebagai kota sport tourism, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, dan UMKM.
Sementara itu, Ketua Umum KPBI, Dr. Akhmad Mustain, menjelaskan bahwa Kejurnas BOT ke-8 diikuti oleh 480 atlet panahan berkuda putra dan putri. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat umum, pelajar, hingga atlet klub profesional, yang datang dari luar Kota Palembang dan luar Provinsi Sumatera Selatan.
“Peserta yang hadir mewakili 22 provinsi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa olahraga panahan berkuda semakin diminati dan berkembang pesat di berbagai daerah,” ungkap Mustain.
Menurutnya, tingkat persaingan dalam kejuaraan kali ini tergolong sangat tinggi. Pasalnya, sejumlah atlet yang turun berlaga merupakan peraih prestasi nasional bahkan internasional, termasuk mereka yang pernah menjuarai kompetisi panahan berkuda tingkat dunia.
“Memang ada beberapa peserta yang sering menjuarai kejuaraan tingkat dunia. Namun peserta lain tidak perlu khawatir. Selama intensitas latihannya baik dan dilakukan secara serius, semua punya peluang yang sama untuk bersaing. Kondisi lapangan, cara pandang, dan seberapa besar intensitas latihan sangat menentukan. Bagi peserta baru, ini justru menjadi tantangan tersendiri untuk bertanding langsung dengan para juara dunia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mustain menerangkan bahwa Kejurnas BOT ke-8 hanya mempertandingkan dua kategori, yakni putra dan putri, dengan batas usia minimal 14 tahun. Namun demikian, faktor usia bukan menjadi penghalang utama, selama atlet memiliki kemampuan teknis yang memadai.
Dalam panahan berkuda, salah satu indikator utama kelayakan atlet untuk bertanding adalah jarak tembak. Atlet yang mampu menembus jarak lebih dari 50 meter diperbolehkan mengikuti kompetisi, asalkan memenuhi ketentuan usia.
“Kami membuka kesempatan seluas-luasnya. Bahkan ada peserta yang masih duduk di bangku SMP, namun sudah mampu menembus jarak lebih dari 50 meter. Itu menunjukkan potensi besar yang perlu terus dibina dan dikembangkan,” katanya.
Tak hanya menjadi ajang nasional, Kejurnas BOT ke-8 juga memiliki nilai strategis dalam pembinaan atlet menuju level internasional. Mustain mengungkapkan bahwa para atlet yang meraih prestasi terbaik dalam kejuaraan ini akan diproyeksikan untuk mengikuti kejuaraan panahan berkuda tingkat dunia yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 mendatang.
“Saat ini sudah ada calon kandidat atlet putra dari Sumatera Barat dan atlet putri dari Lampung yang memiliki peluang besar. Untuk Palembang sendiri, atlet putrinya ada yang meraih juara tiga. Itu sangat memungkinkan untuk diberangkatkan ke kejuaraan internasional, tentu setelah melalui evaluasi,” tambahnya.
Sebagai bagian dari proses seleksi, KPBI akan melakukan evaluasi lanjutan terhadap para atlet terpilih. Mereka akan diminta mengirimkan video latihan rutin serta laporan perkembangan performa dan nilai latihan. Atlet yang memenuhi standar dan ambang batas yang ditetapkan akan masuk dalam daftar resmi tim yang diberangkatkan ke kompetisi internasional.
Mustain pun berharap Kejurnas BOT ke-8 dapat menjadi pemicu semangat bagi generasi muda untuk menekuni olahraga panahan berkuda, sekaligus memperkuat ekosistem olahraga tradisional-modern ini di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan.
“Semakin banyak event digelar, semakin terlihat bahwa minat terhadap olahraga panahan dan berkuda terus meningkat. Kami optimistis, dari ajang seperti inilah akan lahir atlet-atlet hebat yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia,” pungkasnya.
Dengan kehadiran ratusan atlet dari berbagai penjuru Tanah Air, Kejurnas Brotherhood of Toxophilites ke-8 tidak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga simbol kebangkitan olahraga panahan berkuda serta bukti bahwa Palembang layak menjadi salah satu pusat olahraga nasional. (dkd)












