Dinas Pendidikan Kota Palembang Gencarkan Bimtek untuk Antisipasi Bullying di Sekolah
Palembang, bidiksumsel.com – Dalam upaya menanggulangi masalah perundungan atau bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Kebijakan Pencegahan Kekerasan pada Anak di Satuan Pendidikan Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahun 2024.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah nyata untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan bagi seluruh siswa.
Acara Bimtek tersebut dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Palembang, Kapiatul Ahlia, pada Kamis, 26 September 2024, di Hotel Aston. Acara ini dihadiri oleh sekitar 450 peserta yang terdiri dari wakil kesiswaan serta Ketua OSIS dari SMP negeri maupun swasta se-Kota Palembang.
Dalam kegiatan ini, Disdik Kota Palembang tidak bergerak sendiri. Mereka bekerja sama dengan berbagai pihak terkait yang memiliki peran penting dalam melindungi anak-anak dari tindakan kekerasan, baik fisik maupun mental. Di antara mitra yang terlibat adalah Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palembang, Polrestabes Kota Palembang, serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Palembang.
“Kami sangat serius menangani masalah perundungan yang terjadi di sekolah-sekolah. Perundungan bisa menimbulkan trauma jangka panjang pada anak-anak, mempengaruhi prestasi belajar mereka, dan bahkan berdampak buruk pada perkembangan psikologis mereka di masa depan,” ujar Kapiatul Ahlia, yang akrab disapa Lia.
Menurut Lia, tujuan utama Bimtek ini adalah memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya mencegah perundungan sejak dini. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan peserta yang terdiri dari perwakilan kesiswaan dan Ketua OSIS dapat menyebarluaskan pengetahuan yang mereka dapatkan kepada teman-teman sebaya di sekolah masing-masing. Hal ini dianggap sebagai salah satu strategi efektif untuk menekan angka perundungan di kalangan pelajar.
Lia juga menambahkan bahwa para peserta akan dilatih untuk dapat mengenali tanda-tanda awal terjadinya perundungan di lingkungan sekolah. Dengan demikian, mereka dapat segera mengambil langkah pencegahan dan memberikan solusi sebelum tindakan tersebut berdampak lebih jauh.
“Kami berharap dengan menjadi peserta kegiatan Bimtek ini, mereka bisa menyebarkan ilmu yang mereka peroleh kepada teman-teman di sekolah. Sosialisasi yang dilakukan oleh siswa itu sendiri bisa lebih efektif karena mereka berada di tengah-tengah lingkungan pergaulan sehari-hari,” katanya.
Dia menekankan bahwa masalah perundungan harus dicegah dengan pendekatan yang partisipatif. Tidak hanya guru atau pihak sekolah yang harus berperan aktif, tetapi juga siswa sebagai bagian dari komunitas sekolah. “Jika siswa mampu mengenali indikasi awal perundungan, mereka bisa segera bertindak untuk mencegahnya. Kami ingin menciptakan budaya sekolah yang peduli dan saling melindungi,” tambahnya.
Tindakan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah bukanlah hal baru di Indonesia. Bahkan, menurut beberapa penelitian, kasus perundungan masih sering terjadi baik di lingkungan sekolah dasar, menengah pertama, maupun sekolah menengah atas. Dampak dari perundungan ini sangat luas, mulai dari menurunnya prestasi belajar siswa, terjadinya isolasi sosial, hingga masalah psikologis yang bisa bertahan hingga dewasa.
Kapiatul Ahlia menekankan bahwa perundungan tidak boleh dianggap sepele. “Perundungan bisa berdampak serius pada perkembangan anak. Tidak hanya memengaruhi kepercayaan diri mereka, tetapi juga bisa memicu gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri. Itulah mengapa, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak, kami merasa perlu untuk mengambil langkah preventif melalui kegiatan seperti Bimtek ini,” paparnya.
Selain melibatkan berbagai pihak eksternal seperti kepolisian dan lembaga perlindungan anak, Disdik Kota Palembang juga mendorong peran aktif OSIS dalam menyebarkan pesan anti-bullying di sekolah-sekolah. Sebagai organisasi siswa yang berada di tengah-tengah kehidupan sekolah, OSIS dinilai memiliki peran strategis untuk mempromosikan kampanye stop perundungan.
“Kami berharap Ketua OSIS dan perwakilan kesiswaan yang mengikuti Bimtek ini bisa menjadi duta anti-bullying di sekolah mereka masing-masing. Mereka bisa mengadakan kegiatan-kegiatan positif yang mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman,” lanjut Lia.
Ia juga menambahkan bahwa pihak sekolah, khususnya guru, harus berperan sebagai pengawas yang lebih aktif dalam menangani kasus-kasus perundungan. “Para guru diharapkan mampu mengenali tanda-tanda perundungan di kelas dan berani mengambil tindakan yang tegas terhadap pelaku,” ujarnya.
Tindak lanjut dari kegiatan Bimtek ini tidak berhenti pada pemberian materi kepada peserta. Lia menjelaskan bahwa Disdik Kota Palembang akan terus melakukan evaluasi dan monitoring terhadap implementasi kebijakan pencegahan kekerasan di sekolah-sekolah. Mereka juga akan membentuk tim khusus yang bertugas menangani laporan-laporan mengenai perundungan dari pihak sekolah.
“Kami berencana untuk membuat pusat pengaduan yang bisa diakses oleh siswa, guru, dan orang tua jika terjadi kasus perundungan. Dengan adanya pusat pengaduan ini, kami harap setiap tindakan kekerasan bisa segera dilaporkan dan ditangani,” jelas Lia.
Langkah-langkah preventif seperti mengadakan pelatihan bagi guru dan siswa, kampanye anti-bullying, hingga pemantauan langsung ke sekolah-sekolah juga akan terus dilakukan secara berkala oleh Disdik Kota Palembang. Hal ini diharapkan bisa menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan positif bagi semua siswa.
“Pada akhirnya, kami ingin semua siswa di Kota Palembang bisa belajar dalam lingkungan yang positif, di mana mereka merasa aman, dihargai, dan didukung untuk berkembang menjadi pribadi yang baik,” pungkasnya. (red)












