Home Nasional Rahasia di Balik Keteguhan Hati Aipda Aliudin di Tengah Lautan Jemaah Haji

Rahasia di Balik Keteguhan Hati Aipda Aliudin di Tengah Lautan Jemaah Haji

fhoto : ist

Makkah, bidiksumsel.com – Pada 12 Dzulhijjah 1445 H atau bertepatan dengan 18 Juni 2024, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul di Mina untuk melaksanakan salah satu rukun haji, yaitu lempar jumrah. Di antara lautan manusia tersebut, ada Aipda Muhammad Aliudin, seorang anggota Bidang Humas Polda Sumatera Selatan, yang dengan penuh semangat dan keteguhan hati menunaikan ibadah ini.

Aliudin, yang juga dikenal sebagai pemilik Pin Emas Kapolda Sumsel dan editor Majalah Tri Brata News Sumsel selama 13 tahun, telah melakukan perjalanan dari maktabnya di Mina ke tempat pelaksanaan lempar jumrah sejauh 4,5 kilometer. Perjalanan ini tidak hanya dilakukan sekali, melainkan tiga kali selama tiga hari berturut-turut, mengikuti aturan yang ditetapkan untuk melempar jumrah pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Meski harus berjalan kaki tanpa menggunakan kendaraan, semangat dan keikhlasan Aliudin dalam menunaikan ibadah haji tetap kuat. Baginya, jarak 4,5 kilometer yang harus ditempuh pergi dan pulang bukanlah halangan. Dengan mengharap ridha Allah SWT, Aliudin dan 2,5 juta umat Islam lainnya berhasil melaksanakan ritual ini dengan baik dan tanpa kendala berarti.

Dalam perjalanan spiritualnya, Aliudin mengaku banyak merenungkan ketaatan Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, dan anak mereka, Nabi Ismail. Kisah pengorbanan mereka merupakan salah satu inti dari ritual lempar jumrah. Nabi Ibrahim dan keluarganya diuji oleh Allah SWT dengan perintah untuk mengorbankan Nabi Ismail. Meskipun menghadapi godaan dari Iblis yang mencoba menggoyahkan niat mereka, ketaatan dan keimanan Nabi Ibrahim sekeluarga tidak tergoyahkan.

“Terbayang betapa taatnya Nabi Ibrahim, istrinya, dan Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah Allah, meskipun digoda dan diganggu oleh Iblis dari berbagai sudut,” kata Aliudin.

Dalam sejarahnya, Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail melempar batu ke arah setan dan Iblis untuk mengusir mereka agar tidak mengganggu pelaksanaan perintah Allah SWT tersebut.

Bagi Aliudin, lempar jumrah adalah lebih dari sekadar ritual. Ini adalah simbol dari perjuangan melawan godaan dan gangguan yang mencoba menjauhkan manusia dari jalan kebenaran. Dalam setiap lemparan batu, ada doa dan harapan untuk mengusir semua godaan yang bisa menghalangi ketulusan dalam menjalankan ibadah.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd,” seruan takbir menggema di tempat pelaksanaan lempar jumrah, memberikan semangat dan kekuatan kepada setiap jemaah, termasuk Aliudin.

Selain tantangan fisik, perjalanan ibadah haji juga menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam. Setiap langkah yang diambil Aliudin, setiap batu yang dilemparkan, adalah bagian dari proses mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengingat kembali kisah Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail, Aliudin merasa semakin kuat dalam keimanan dan keyakinannya.

Aliudin juga berbagi pengalamannya dalam menghadapi berbagai rintangan selama perjalanan haji. Dari keramaian jutaan jemaah hingga cuaca yang ekstrem, semua itu dilalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. “Ini adalah ujian keimanan, dan saya bersyukur bisa melewati semuanya dengan baik,” ujarnya.

Sebagai editor Majalah Tri Brata News Sumsel selama lebih dari satu dekade, Aliudin merasa bahwa pengalaman hajinya memberikan perspektif baru dalam hidupnya. Ia melihat betapa pentingnya keteguhan hati dan ketulusan dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah keramaian dan kesibukan ibadah haji, Aliudin juga merasa bersyukur bisa bertemu dan berinteraksi dengan berbagai jemaah dari seluruh dunia. “Ini adalah momen yang luar biasa, di mana kita bisa merasakan kebersamaan dan persaudaraan dengan umat Islam dari berbagai negara,” ungkapnya.

Pengalaman ini mengajarkan Aliudin tentang arti solidaritas dan saling menghormati dalam keberagaman. Setiap jemaah haji datang dengan latar belakang yang berbeda, namun disatukan oleh tujuan yang sama: menunaikan ibadah haji dengan sempurna dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Aliudin berharap, pengalaman hajinya bisa menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya di Polda Sumsel dan masyarakat luas. Ia mengajak semua orang untuk menjalani hidup dengan penuh keteguhan hati dan keikhlasan, serta tidak mudah tergoyahkan oleh godaan dan rintangan yang ada.

Menjelang akhir ibadah haji, Aliudin merasa sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Ia berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat dalam menjalankan setiap perintah-Nya. (dkd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here