Palembang, bidiksumsel.com – Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang, inflasi bulan ke bulan (month-to-month/mtm) Februari 2026 tercatat sebesar 0,58 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Januari 2026. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi mencapai 4,37 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 0,63 persen.
Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, menjelaskan bahwa lonjakan harga emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan ini. Komoditas tersebut memberikan andil 0,240 persen terhadap inflasi mtm.
“Harga emas perhiasan naik signifikan mengikuti tren penguatan harga emas global. Ini menjadi penyumbang inflasi terbesar bulan ini,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Selain emas, tekanan harga juga datang dari sejumlah komoditas pangan strategis. Cabai merah menyumbang 0,084 persen terhadap inflasi mtm, disusul daging ayam ras (0,035 persen), telur ayam ras (0,028 persen), tomat (0,016 persen), dan ikan dencis (0,015 persen).
Tekanan pada komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat dipengaruhi oleh turunnya produksi akibat cuaca ekstrem yang mengganggu distribusi serta pasokan di pasar tradisional. Di sisi lain, peningkatan permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan Ramadan turut memperkuat tekanan harga, terutama pada protein hewani dan bahan pokok harian.
Dari total 393 komoditas yang dipantau BPS di Palembang, tercatat 89 komoditas mengalami kenaikan harga, 29 komoditas turun, dan 275 komoditas relatif stabil. Data ini menunjukkan inflasi Februari bersifat selektif dan terkonsentrasi pada komoditas tertentu, bukan kenaikan harga secara menyeluruh.
Secara tahunan (yoy), kelompok pengeluaran yang memberi andil terbesar adalah Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 1,82 persen, terutama akibat penyesuaian tarif listrik. Sementara kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menyumbang 1,74 persen, didominasi kenaikan harga emas perhiasan.
Struktur ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi Palembang tidak hanya berasal dari pangan yang bersifat fluktuatif (volatile food), tetapi juga dari kelompok harga yang lebih persisten, seperti tarif administrasi dan komoditas global.
Di tengah tekanan tersebut, terdapat faktor penahan inflasi. Penurunan harga BBM nonsubsidi memberikan andil deflasi sebesar 0,045 persen. Menurut Edi, pelemahan harga minyak mentah dunia serta stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor utama turunnya harga bensin.
“Penurunan harga bensin sedikit meredam tekanan inflasi bulan ini,” jelasnya.
Merespons perkembangan ini, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat pengendalian inflasi melalui implementasi Strategi 4K: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
“Menipisnya pasokan akibat cuaca ekstrem menurunkan hasil panen. Ditambah peningkatan permintaan menjelang Ramadan, harga cabai dan daging ayam ikut terdorong naik,” ujar Dewa di kantor BPS, Senin (2/3/2026).
Sebagai langkah konkret, Pemkot Palembang akan menggelar pasar murah di tingkat kecamatan dan kelurahan, mengoptimalkan peran pasar tradisional, memperkuat kerja sama antar daerah untuk pasokan pangan, serta menambah cadangan pangan strategis.
Selain itu, rehabilitasi jalan dan revitalisasi pasar juga dilakukan guna mendukung kelancaran distribusi barang. Di sisi pengambilan kebijakan, sinergi bersama BPS dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat melalui pendekatan berbasis data.
“Kami mengapresiasi kolaborasi BPS dan TPID. Dengan data yang akurat dan respons cepat, kita optimistis stabilitas harga dapat dijaga demi kesejahteraan masyarakat Palembang,” pungkas Ratu Dewa.
Dengan tekanan harga yang terkendali namun tetap perlu diwaspadai, Palembang memasuki Ramadan dengan kewaspadaan tinggi. Pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk menjaga daya beli masyarakat agar momentum keagamaan tidak dibayangi gejolak ekonomi. (rd)




