Home Berita Pemprov TPID Lakukan Rakor, Provinsi Sumsel Alami Deflasi Periode Juni 2021

TPID Lakukan Rakor, Provinsi Sumsel Alami Deflasi Periode Juni 2021

fhoto : Rapat koordinasi TPID Provinsi Sumsel di laksanakan di kantor perwakilan Bank Indonesia. Rabu, (07/07/2021)/BI

Palembang, bidiksumsel.com – Dalam rangka antisipasi PPKM Darurat di wilayah Jawa-Bali dan PPKM Mikro di wilayah Sumatera Selatan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel juga telah melakukan koordinasi melalui rapat koordinasi yang dipimpin oleh Plh. Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Dr. H. Akhmad Najib, SH, M.Hum selaku Pelaksana Harian Ketua TPID Provinsi Sumsel.

Rapat koordinasi TPID Provinsi Sumsel di laksanakan di kantor perwakilan Bank Indonesia. Rabu, (07/07/2021)

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Hari Widodo mengungkapkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sumatera Selatan pada bulan Juni 2021 tercatat deflasi sebesar -0,01% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya tercatat inflasi sebesar 0,01% (mtm).

Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh deflasi yang bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau serta kelompok transportasi.

“Dengan perkembangan tersebut, realisasi inflasi kumulatif Sumatera Selatan pada bulan laporan tercatat sebesar 0,83% (ytd). Secara tahunan, inflasi IHK Juni 2021 tercatat sebesar 1,24% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 1,33% (yoy) dan inflasi Sumatera sebesar 1,76% (yoy),” ujarnya.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar -0,51% (mtm) dengan andil sebesar -0,15% (mtm). Deflasi didorong oleh penurunan harga pada beberapa komoditas subkelompok makanan seperti cabai merah, bawang merah, beras, dan daging ayam ras.

Penurunan harga komoditas cabai merah, bawang merah, beras, dan daging ayam ras didorong oleh normalisasi permintaan pasca HBKN Idul Fitri dan jumlah pasokan yang memadai.

“Tekanan deflasi daging ayam ras yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga pakan ternak dan kebijakan culling and cutting program yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian yang berlaku sampai dengan 3 Juli 2021,” katanya.

Sementara itu, kelompok transportasi pada bulan Juni 2021 kembali mencatatkan deflasi sebesar -0,34% (mtm) dengan andil sebesar -0,04% (mtm). Deflasi didorong oleh penurunan tarif angkutan udara yang tercatat sebesar -7,07% (mtm).

Penurunan tarif tersebut didorong oleh promo harga oleh beberapa maskapai serta normalisasi permintaan pasca peningkatan permintaan di akhir bulan Mei 2021.

Deflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau tertahan oleh kenaikan harga telur ayam ras dan buah naga. Kenaikan harga telur ayam ras disebabkan oleh kenaikan biaya produksi sejalan dengan kenaikan harga pakan ternak, seperti jagung, soy bean meal, dan meat bone meal.

Kenaikan harga komoditas buah-buahan terjadi pada buah naga dengan andil inflasi sebesar 0,01% (mtm) didorong oleh meningkatnya konsumsi buah-buahan di tengah pandemi.

Selain itu, peningkatan harga emas perhiasan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menahan laju deflasi pada bulan Juni 2021. Inflasi komoditas emas perhiasan tercatat sebesar 3,62% (mtm) seiring peningkatan harga emas global.

Lebih lanjut, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya, juga tercatat inflasi. Inflasi kelompok ini bersumber dari inflasi pada komoditas tas sekolah. Inflasi tas sekolah tercatat sebesar 5,44% (mtm) ditengarai disebabkan oleh naiknya permintaan sejalan dengan rencana sekolah secara tatap muka yang semula akan dimulai pada tahun ajaran baru pada Juli 2021.

Secara spasial, pada bulan Juni 2021 kedua kota sample IHK yaitu Kota Palembang dan Kota Lubuklinggau mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,01% (mtm) dan -0,08% (mtm).

“Komoditas yang memberikan andil deflasi di Kota Palembang adalah cabai merah, bawang merah, angkutan udara, beras, dan daging ayam ras,” ungkapnya.

Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar di Kota Lubuklinggau adalah cabai merah, bahan bakar rumah tangga, cabai rawit, tarif kendaraan travel, dan ayam hidup.

Mencermati perkembangan inflasi terkini dan beberapa indikator harga, inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada bulan Juli 2021 diperkirakan akan meningkat.

Inflasi diperkirakan bersumber dari kelompok bahan makanan seperti cabai merah dan bawang merah karena stok yang mulai terbatas, masuknya musim kemarau di berbagai sentra, serta penerapan PPKM Darurat di Jawa-Bali.

Dari sisi supply, kenaikan harga telur ayam ras didorong oleh peningkatan harga pokok produksi di tingkat peternak. Selanjutnya, kenaikan harga aneka rokok di tingkat eceran juga akan berlanjut akibat penyesuaian tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang telah berlaku efektif sejak 1 Februari 2021.

“Kenaikan harga semen dan besi beton seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur diperkirakan turut memberikan tekanan terhadap inflasi,” imbuhnya.

Namun demikian, laju inflasi diperkirakan akan tertahan oleh masih terjaganya pasokan beras di Sumatera Selatan. Inflasi juga diperkirakan tertahan oleh penurunan harga angkutan udara sebagai dampak pemberlakuan PPKM Darurat di Jawa-Bali.

Inflasi Provinsi Sumatera Selatan keseluruhan tahun 2021 diperkirakan masih terkendali dan berada dalam rentang sasaran target inflasi nasional 3,0±1% dengan kecenderungan bias ke bawah.

Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari mulai pulihnya permintaan masyarakat dan penyedia jasa makan minum seiring percepatan dan perluasan vaksinasi COVID-19. Selanjutnya, kenaikan harga aneka rokok di tingkat eceran akan berlanjut akibat kenaikan cukai rokok sejak awal tahun 2021.

“Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur yang sempat tertunda di tahun sebelumnya juga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas semen dan batu bata. Namun demikian, tercukupinya pasokan beras dan gula pasir diperkirakan menahan laju inflasi,” tutupnya. (rel/dkd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here