Home Nasional RDP Dengan BMKG dan BNPP, ESP Memahami Pengurangan Anggaran Karena Pandemi

RDP Dengan BMKG dan BNPP, ESP Memahami Pengurangan Anggaran Karena Pandemi

Tangkapan layar Anggota DPR RI Komisi V Fraksi Partai Gerindra Ir. H. Eddy Santana Putra,MT saat RDP Dengan BMKG dan BNPP/ce

Jakarta, bidiksumsel.com – Di Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama BMKG dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), Anggota DPR RI Komisi V Ir.H. Eddy Santana Putra,MT (ESP) memahami pengurangan anggaran, baik di Kementrian maupun Lembaga.

Pemahaman tersebut disikapi ESP, lantaran kondisi negara masih belum stabil karena pandemi Covid-19.

“Saya menyikapi anggaran ini, saya bisa mengerti, karena secara keseluruhan juga kementrian maupun lembaga ada juga pengurangan-pengurangan karena pendapatan kita berkurang,” ujarnya.

“Baik dari pajak, dan pendapatan nasional bukan pajak, karena masih adanya pandemi Covid-19. Mudah-mudahan secepatnya bisa normal di tahun 2022 sehingga ekonomi kita jadi bagus. Sehingga tidak banyak backlock dari usulan-usulan kebutuhan, baik dari BMKG maupun BNPP (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan),” tambahnya.

Terlepas dari itu, ESP meminta BNPP atau lebih dikenal dengan Basarnas dengan 1 Triliun Anggaran Pagu Indikatif yang dapat diartikan sebagai dana cadangan pencarian, dan pertolongan kecelakaan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

“Ini kan belum dipakai tapi dicadangkan. Kita perlu tau pak, di tren 5 tahun terakhir kita tahu, mudah-mudahan ini tidak banyak terpakai pak, kalau tidak semuanya terpakai berarti kita tau kecelakaannya semakin sedikit. Itulah tren nya pak,” pintanya.

Ia berharap, BNPP dapat mencontoh BMKG dalam kebutuhan Pagu Indikatif untuk 5 tahun.

“Seperti BMKG ini untuk 5 tahun kebutuhan Pagu Indikatif nya. mungkin perlu seperti itu, tapi khusus seperti ini pak. Kalau belanja pegawai, dan belanja barang hampir sama setiap tahun, walaupun nanti ada penambahan baru pegawai, tapi kan ada yang pensiun juga, mudah-mudahan berimbang yang masuk dan keluar,” ulasnya.

Sementara BMKG, ESP mengingatkan agar menindak lanjuti penambahan keperluan peralatan Twinsald sebagai antisipasi kecelakaan.

“Untuk Ibu Dwikorita dulu pernah saya sampaikan di airport-airport bandara itu perlu peralatan twinsald, waktu itu disampaikan peralatannya mahal, ada hanya dua unit, untuk dua bandara, padahal banyak bandara butuh ini ibu,” katanya.

“Waktu itu kami ke labuan bajo, labuan bajo itu juga belum ada kan twinsald nya, jadi ga bisa turun, lama gitu (turun-nya) setelah ada pemberitahuan dari pilot bahwa ada angin yang sangat kuat. Jadi hal-hal seperti ini perlu ada antisipasi, saya kira perlu ditambah lah ini, untuk bandara-bandara yang prioritas,” ceritanya.

Ia mengingat, pada RDP yang lalu dari BMKG menyampaikan, bahwa ada pemasangan alat pengamanan atau penangkal petir didaerah tertentu, dirinya meminta agar daerah sekitar dapat diperhatikan.

“Seperti di Ciawi banyak sekali petir, bayangkan jika ada orang, kan petir kalau menghantam pohon pasti langsung tumbang itu pohon, saya kira itu diperhatikan dan ditindak lanjuti lebih lanjut, apakah perlu dipasang di tempat tersebut,” pintanya.

“Dan daerah Ranca maya (daerah sekitar Ciawi) lapangan golf juga sama, kalau ada petir, orang tidak berani main disitu, karena sudah ada kejadian hingga memakan korban,” tambahnya bercerita. (ce)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here