Beranda Ekonomi Inflasi Sumsel Desember 2025 Terkendali di 2,91 Persen, Emas dan Cabai Jadi...

Inflasi Sumsel Desember 2025 Terkendali di 2,91 Persen, Emas dan Cabai Jadi Pemicu

ist

Inflasi Sumatera Selatan Desember 2025 Terkendali di Tengah Tekanan Harga Pangan dan Emas

Palembang, bidiksumsel.com – Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,49 persen (month to month/mtm) pada Desember 2025. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,02 persen (mtm), seiring naiknya harga sejumlah komoditas strategis di akhir tahun.

Secara tahunan, inflasi Sumatera Selatan tercatat 2,91 persen (year on year/yoy), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang juga berada pada level 2,91 persen (yoy). Capaian ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, menandakan inflasi Sumatera Selatan sepanjang 2025 tetap terjaga.

Sementara itu, inflasi nasional tercatat sedikit meningkat menjadi 2,92 persen (yoy) dari sebelumnya 2,72 persen (yoy), sehingga posisi inflasi Sumatera Selatan masih sejalan dengan tren nasional.

Emas dan Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi

Inflasi Sumatera Selatan pada periode laporan terutama didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas utama. Berdasarkan kontribusinya terhadap inflasi bulanan, komoditas dengan andil terbesar antara lain :

  • Emas perhiasan sebesar 0,09 persen (mtm)
  • Bawang merah sebesar 0,07 persen (mtm)
  • Daging ayam ras sebesar 0,07 persen (mtm)
  • Cabai rawit sebesar 0,06 persen (mtm)
  • Cabai merah sebesar 0,05 persen (mtm)

Harga emas perhiasan tercatat melanjutkan tren kenaikan seiring tingginya permintaan masyarakat terhadap aset lindung nilai (safe-haven asset) di tengah ketidakpastian dan dinamika ekonomi global.

Di sisi lain, kenaikan harga daging ayam ras dipicu oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Sementara komoditas hortikultura seperti bawang merah dan aneka cabai mengalami tekanan harga akibat terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi, yang terdampak oleh kondisi cuaca dan curah hujan tinggi.

Risiko Inflasi Awal 2026 Tetap Diantisipasi

Ke depan, inflasi Sumatera Selatan diprakirakan tetap terkendali, meskipun terdapat sejumlah faktor yang perlu diantisipasi secara bersama. Di antaranya adalah potensi peningkatan konsumsi masyarakat pada periode Tahun Baru Imlek dan Isra Mi’raj, serta risiko gangguan pasokan pangan akibat curah hujan yang diprediksi masih tinggi hingga Februari 2026.

Selain itu, sisa dampak banjir bandang di beberapa wilayah Sumatera juga berpotensi mengganggu distribusi komoditas pangan. Oleh karena itu, penguatan koordinasi pasokan dan distribusi dinilai menjadi kunci utama agar ketersediaan tetap terjaga dan harga tetap stabil.

Di sisi lain, laju inflasi diprakirakan akan tertahan oleh normalisasi permintaan barang dan jasa pasca puncak konsumsi akhir tahun, serta penurunan harga BBM non subsidi pada awal Januari 2026.

TPID Sumsel Perkuat Strategi 4K

Dalam rangka menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yakni :

  1. Keterjangkauan harga (K1)
  2. Ketersediaan pasokan (K2)
  3. Kelancaran distribusi (K3)
  4. Komunikasi yang efektif (K4)

Berbagai langkah konkret telah dilakukan, antara lain penyelenggaraan Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah, yang hingga akhir Desember 2025 tercatat sebanyak 542 kegiatan di seluruh wilayah Sumatera Selatan.

TPID juga melakukan koordinasi intensif dengan Perum Bulog terkait pendistribusian beras SPHP, serta penyaluran kebutuhan pokok terjangkau melalui Toko KePo, RPK (Rumah Pangan Kita), dan Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya.

Selain itu, inspeksi mendadak (sidak) ke pasar, distributor, dan produsen rutin dilakukan untuk memastikan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) serta stok tetap tersedia.

Gerakan Sumsel Mandiri Pangan Terus Digencarkan

Untuk memperkuat ketahanan pangan, Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) 2025 terus dioptimalkan melalui tiga program utama, yaitu :

  • GSMP Menyapa Lingkungan Desa (Menyala) yang menyasar 1.020 rumah tangga dan 68 Kelompok Wanita Tani (KWT)
  • GSMP Goes to Panti Sosial
  • GSMP Goes to Office yang melibatkan seluruh OPD di Sumatera Selatan

Dalam implementasinya, Bank Indonesia bersama TPID Sumatera Selatan memberikan dukungan berupa bibit, benih, serta sarana prasarana budidaya cabai dan bawang merah, disertai kegiatan capacity building bagi kelompok tani, rumah tangga, penyuluh, dan PKK di empat zona wilayah.

Ke depan, program ini akan dilanjutkan dengan pendampingan pasca panen, diversifikasi produk, pembentukan koperasi, serta replikasi klaster pangan di wilayah potensial lainnya.

Apresiasi Presiden untuk TPID Sumsel

Sebagai bukti kinerja nyata dalam pengendalian inflasi, TPID Provinsi Sumatera Selatan dan TPID Kota Palembang menerima apresiasi dari Presiden Republik Indonesia sebagai :

  • TPID Provinsi Berkinerja Terbaik Kawasan Sumatera Tahun 2025
  • TPID Kabupaten/Kota Berkinerja Terbaik Kawasan Sumatera Tahun 2025

Capaian ini menegaskan komitmen kuat Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga, ketahanan pangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. (dkd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here